banner 728x250
Berita  

Kabut Asap Kalimantan Meluas, Warga Mulai Terdampak

Kebakaran hutan dan lahan memperburuk kualitas udara di Kalimantan, mengganggu penerbangan, dan mendorong kenaikan kasus gangguan pernapasan.

banner 120x600
banner 468x60

JejakMedan mengulas ancaman kabut asap yang kembali menjadi persoalan krusial pada pertengahan September 2026. Kebakaran hutan dan lahan di sejumlah kawasan Kalimantan memicu timbulan asap pekat, terutama di wilayah Kalimantan Barat serta Kalimantan Tengah. Kota Pontianak menjadi salah satu daerah terdampak paling parah, yang ditandai dengan merosotnya kualitas udara hingga terganggunya berbagai aktivitas keseharian warga.

Situasi tahun ini mendapat perhatian lebih besar karena Indonesia menghadapi kondisi El Niño dengan intensitas sangat kuat. Udara yang kering, suhu tinggi, dan curah hujan terbatas membuat api lebih mudah bertahan, khususnya pada kawasan gambut. BMKG memperkirakan pengaruh El Niño masih dapat berlangsung hingga awal 2027.

banner 325x300

Asap Tebal Menyelimuti Pontianak

Kondisi di Pontianak memperlihatkan bagaimana karhutla mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari. Associated Press melaporkan kabut putih hingga kekuningan menyelimuti kota selama beberapa hari dan membuat jarak pandang turun hingga kurang dari satu kilometer. Situasi tersebut ikut mengganggu penerbangan serta menyulitkan operasi pemadaman dari udara.

Aktivitas warga tetap berjalan, tetapi banyak orang mulai memakai masker ketika berada di luar rumah. Sungai Kapuas, jalan raya, dan sejumlah kawasan perkotaan tampak tertutup lapisan asap yang mengurangi pandangan.

BMKG melalui data BMKG mencatat 627 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan berdasarkan pemantauan 13 September. Papua dan Maluku menyusul dengan 200 titik, Sulawesi 104 titik, serta Sumatra 86 titik.

Citra Himawari-9 sehari kemudian masih menunjukkan sebaran asap di Sumatra, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Karakter lahan gambut membuat penanganannya lebih sulit karena api dapat terus membakar lapisan bawah tanah meski permukaan tampak sudah padam.

El Niño Membuat Musim Kering Lebih Berat

Kondisi cuaca memainkan peran besar dalam meluasnya kebakaran. Sekitar 81 persen Zona Musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau menurut laporan BMKG pada pertengahan September. Sebanyak 1.637 titik pengamatan bahkan mengalami lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan.

Indeks ENSO untuk periode Juli hingga September menunjukkan angka 2,6, yang masuk kategori El Niño sangat kuat. Anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 juga mencapai sekitar +2,76 derajat Celsius pada awal September.

Dampaknya bukan sekadar cuaca panas. Minimnya hujan membuat vegetasi kering lebih mudah terbakar, sementara suhu maksimum di sejumlah wilayah Indonesia melampaui 36 derajat Celsius.

Kondisi serupa pernah muncul pada krisis karhutla sebelumnya. Namun setiap musim kebakaran memiliki skala dan karakter berbeda, sehingga perbandingan langsung tetap perlu dilakukan secara hati-hati.

Gangguan Pernapasan Naik Tajam

Aspek kesehatan kini menjadi perhatian utama. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang dikutip laporan Reuters, lebih dari 12,5 juta orang telah terpapar kabut asap di tujuh provinsi di Kalimantan dan Sumatra.

Jumlah kasus gangguan pernapasan terkait kebakaran dalam wilayah tersebut naik dari 50.891 pada 1 September menjadi 113.336 pada 9 September. Salah satu fasilitas kesehatan di Pontianak juga mencatat peningkatan pasien dengan keluhan kesulitan bernapas.

Program sukarelawan “Rumah Oksigen” bahkan mulai membagikan tabung oksigen kepada warga dan petugas pemadam yang mengalami masalah pernapasan di Kalimantan Barat.

Angka kesehatan tersebut bersifat dinamis. Data kasus dan jumlah warga terdampak perlu diverifikasi kembali melalui Kementerian Kesehatan apabila artikel diterbitkan setelah 16 September 2026.

Penerbangan dan Sekolah Ikut Terganggu

Kabut asap tidak hanya membawa risiko kesehatan. Jarak pandang rendah telah memengaruhi penerbangan di Kalimantan Barat selama beberapa hari. Petugas pemadam juga menghadapi kendala karena kondisi udara membatasi visibilitas ketika operasi dilakukan.

Gangguan pendidikan turut muncul di wilayah lain. Associated Press mencatat sekolah di sejumlah daerah Sumatra menghentikan sementara kegiatan belajar langsung akibat polusi udara. Lebih dari 1,4 juta siswa disebut terdampak kabut asap secara nasional.

Situasi tersebut membuat kualitas udara menjadi faktor penting dalam keputusan aktivitas luar ruangan. Anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan memiliki risiko lebih tinggi ketika konsentrasi partikel polusi meningkat.

Masyarakat di wilayah terdampak sebaiknya mengikuti informasi kualitas udara, membatasi aktivitas di luar rumah ketika kondisi memburuk, serta menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai.

Pemadaman Melibatkan Puluhan Pesawat

Pemerintah meningkatkan operasi pemadaman seiring meluasnya kebakaran. Reuters melaporkan lebih dari 50 pesawat dan helikopter digunakan untuk water bombing serta operasi modifikasi cuaca.

Bantuan internasional juga mulai masuk. Jepang mengirim tiga helikopter CH-47 Chinook bersama sekitar 180 personel untuk mendukung operasi. Peralatan dan dukungan dari beberapa negara lain turut digunakan dalam upaya menghadapi kebakaran.

Kementerian Kehutanan mencatat lebih dari 202.000 hektare lahan terbakar sepanjang Januari hingga Juli. Reuters juga mengutip perkiraan Yayasan Konservasi Alam Nusantara yang menyebut sekitar 600.000 hektare tambahan mengalami kebakaran pada Agustus. Angka kedua merupakan estimasi organisasi lingkungan dan perlu dibedakan dari data resmi pemerintah.

Asap Mulai Menyeberang ke Negara Tetangga

Dampak kebakaran kini tidak berhenti di wilayah Indonesia. Kabut asap bergerak menuju negara tetangga mengikuti pola angin dan memengaruhi kualitas udara di sebagian Malaysia serta Singapura.

Associated Press juga melaporkan asap mencapai wilayah Filipina, sementara salah satu bagian Sarawak di Malaysia sempat menghadapi tingkat polusi udara yang memicu kondisi darurat.

BMKG masih melihat peluang hujan lokal di sebagian Sumatra dan Kalimantan pada periode 14–21 September. Namun hujan tidak otomatis mengakhiri ancaman karhutla karena kondisi atmosfer secara umum tetap kering.

Perkembangan beberapa hari berikutnya akan sangat bergantung pada cuaca, efektivitas pemadaman, serta kemampuan mencegah titik api baru. Bagi masyarakat, informasi kualitas udara sama pentingnya dengan prakiraan hujan selama periode ini.

Karhutla September 2026 akhirnya bukan sekadar persoalan kebakaran lahan. Dampaknya sudah menyentuh kesehatan, pendidikan, penerbangan, aktivitas ekonomi, hingga hubungan lintas batas. Selama musim kering kuat masih bertahan, kewaspadaan terhadap titik panas dan kabut asap tetap diperlukan.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *