JejakMedan mencatat pergeseran peta kekuatan yang signifikan pada pasar mobil Indonesia sepanjang 2026. Di saat industri nasional tengah menunjukkan tren pertumbuhan, Honda justru megalami penurunan penjualan lebih dari 30 persen dalam delapan bulan pertama tahun ini. Sebaliknya, pabrikan seperti BYD dan Jaecoo melaju pesar dengan mencatat pertumbuhan tinggi. Fenomena ini menandakan bahwa tekanan terhadap Honda bukan sekedar lesunya permintaan pasar, melainkan ketatnya persaingan yang semakin dinamis.
Penjualan Honda Turun Lebih dari 30 Persen
Data Januari-Agustus 2026 menunjukkan wholesales Honda mencapai 26.437 unit. Angka tersebut turun 37,5 persen dibanding periode yang sama pada 2025 yang mencapai 42.291 unit. Penjualan dari dealer kepada konsumen juga melemah. Retail sales Honda tercatat 31.671 unit atau turun sekitar 36 persen dari 49.513 unit tahun lalu.
Penurunan pada dua kanal sekaligus memberi gambaran bahwa tekanan tidak hanya muncul pada distribusi dari pabrikan ke dealer. Permintaan dari konsumen juga belum mampu menyamai capaian tahun sebelumnya. Honda sebelumnya dikenal konsisten berada di kelompok lima besar merek mobil nasional, bersaing dengan Toyota, Daihatsu, Suzuki, dan Mitsubishi.
Situasi Agustus memperlihatkan posisi berbeda. Berdasarkan data GAIKINDO, Honda mencatat wholesales 3.177 unit. Jumlah tersebut menempatkannya di posisi kedelapan. Retail sales Honda mencapai 4.117 unit dan berada di posisi ketujuh.
BYD Tumbuh Hampir Dua Kali Lipat
Tekanan paling terlihat datang dari produsen China. BYD membukukan wholesales 37.696 unit sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Jumlah itu meningkat 98,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Retail sales BYD juga naik 83,1 persen menjadi 35.289 unit.
Angka tersebut membuat penjualan retail BYD sudah melampaui Honda. Pada Agustus saja, BYD mencatat 7.870 unit wholesales dan 6.861 unit retail sales. Capaian itu mengantar BYD ke posisi ketiga pasar nasional, hanya berada di belakang Toyota dan Daihatsu.
BYD juga mempunyai model dengan volume tinggi. Atto 1 mencatat sekitar 5.560 unit wholesales pada Agustus dan menjadi mobil kedua terlaris secara nasional. Posisi itu berada di bawah Daihatsu Gran Max, tetapi mengungguli Toyota Innova, Avanza, dan Suzuki Carry.
Performa tersebut menunjukkan mobil listrik mulai masuk ke pasar volume. Konsumen tidak lagi hanya melihat kendaraan listrik sebagai produk khusus dengan harga tinggi. Pilihan model semakin banyak dan rentang harganya juga semakin luas.
Jaecoo Ikut Mengubah Peta Persaingan
BYD bukan satu-satunya merek China yang tumbuh. Jaecoo juga bergerak cepat. Distribusi wholesales merek tersebut mencapai 23.834 unit dalam delapan bulan pertama 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, jumlahnya hanya 438 unit.
Retail sales Jaecoo mencapai 23.486 unit. Model J5 menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut. Pada Agustus, Jaecoo menjual sekitar 3.300 unit secara wholesales dan berhasil masuk jajaran sepuluh besar merek mobil di Indonesia.
Masuknya BYD dan Jaecoo memperlihatkan bahwa merek China tidak lagi sekadar menjadi pemain alternatif. Mereka mulai mengambil posisi yang sebelumnya hampir selalu ditempati produsen Jepang.
Namun, data ini belum berarti dominasi mobil Jepang berakhir. Toyota masih memimpin pasar dengan wholesales 20.357 unit pada Agustus. Daihatsu berada di posisi kedua dengan 13.214 unit. Suzuki dan Mitsubishi juga tetap mempertahankan volume yang cukup besar.
Pasar Nasional Justru Sedang Bertumbuh
Penurunan Honda menjadi lebih menarik karena terjadi saat industri otomotif Indonesia mencatat pertumbuhan. Wholesales nasional pada Agustus mencapai 81.756 unit. Retail sales bahkan lebih tinggi, yakni 83.422 unit.
Dibanding Juli, wholesales tumbuh sekitar 0,79 persen. Retail sales naik lebih kuat sebesar 7,7 persen. Sepanjang Januari sampai Agustus, penjualan retail nasional mencapai 594.984 unit.
Fakta tersebut menunjukkan konsumen sebenarnya masih berbelanja mobil. Persoalannya adalah pilihan mereka semakin tersebar ke lebih banyak merek.
Model listrik, hybrid, dan plug-in hybrid juga memperluas pilihan. Konsumen sekarang dapat membandingkan kendaraan tidak hanya berdasarkan mesin atau ukuran, tetapi juga teknologi, biaya penggunaan, fitur digital, garansi baterai, serta layanan purnajual.
Honda Siapkan Strategi sampai Akhir Tahun
Honda Prospect Motor tidak tinggal diam. Perusahaan menilai kondisi hingga akhir 2026 masih menantang, terutama terkait daya beli dan situasi ekonomi. Honda berencana mempertahankan permintaan lewat program penjualan, produk yang sesuai kebutuhan konsumen, serta kegiatan pemasaran di berbagai daerah.
Dalam strategi Honda, perusahaan juga menekankan layanan purnajual dan program yang dapat membantu menekan biaya kepemilikan kendaraan. Pendekatan tersebut penting karena persaingan sekarang tidak hanya terjadi pada harga beli awal. Konsumen juga mulai mempertimbangkan biaya servis, suku cadang, konsumsi energi, garansi, dan nilai jual kembali.
Efektivitas strategi tersebut masih perlu dilihat dari data September hingga Desember. Pernyataan perusahaan mengenai rencana penjualan bukan jaminan bahwa volume akan langsung pulih. Hasil akhirnya tetap membutuhkan verifikasi melalui laporan penjualan berikutnya.
Produk Baru Belum Otomatis Mengangkat Volume
Honda sebenarnya tetap mempunyai model populer seperti Brio. Pada Agustus, Brio membukukan wholesales sekitar 1.670 unit dan masih masuk daftar 20 mobil terlaris.
Tantangannya terletak pada semakin padatnya pilihan di sekitar segmen yang sama. Produsen China menawarkan kendaraan elektrifikasi dengan fitur yang agresif. Merek Jepang lain juga memperkuat lini hybrid serta produk keluarga.
Honda membutuhkan lebih dari sekadar nama besar untuk mempertahankan pangsa pasar. Harga yang kompetitif, pilihan elektrifikasi, jaringan dealer, ketersediaan suku cadang, hingga pengalaman kepemilikan akan semakin menentukan keputusan konsumen.
Tekanan global juga tidak bisa diabaikan. Reuters melaporkan Honda sedang mendorong penghematan biaya besar dalam bisnis otomotifnya hingga 2030. Persaingan dengan produsen China menjadi salah satu tantangan yang dihadapi perusahaan di sejumlah pasar, termasuk Asia Tenggara.
Persaingan Akhir 2026 Akan Semakin Ketat
Perubahan yang terjadi sepanjang delapan bulan pertama 2026 memberi sinyal bahwa pasar otomotif Indonesia sedang memasuki fase baru. Merek Jepang masih memegang volume terbesar, tetapi jarak dengan pemain China mulai mengecil pada beberapa segmen.
Honda menjadi contoh paling jelas mengenai cepatnya perubahan tersebut. Dalam waktu satu tahun, penjualannya turun lebih dari 30 persen ketika BYD hampir menggandakan distribusinya.
Bagi konsumen, persaingan ini justru memberi keuntungan. Pilihan produk bertambah dan produsen harus menawarkan harga, fitur, teknologi, serta layanan yang semakin menarik.
Empat bulan terakhir 2026 akan menjadi periode penting bagi Honda. Jika program penjualan dan produk yang disiapkan mampu mengangkat volume, penurunan tahun ini bisa mulai ditekan. Namun, jika BYD, Jaecoo, dan merek baru lain terus tumbuh, peta lima besar otomotif Indonesia berpotensi berubah lebih jauh.















