JejakMedan mencatat Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong pengembangan QRIS Star sebagai katalog sekaligus sistem klasifikasi produk dan layanan ekonomi kreatif Indonesia. Gagasan tersebut bertujuan membantu konsumen, termasuk wisatawan mancanegara, menemukan pelaku usaha berdasarkan tingkat tertentu sekaligus mendorong peningkatan kualitas. Namun, konsep yang dibahas masih berada pada tahap pengembangan dan belum menjadi sistem rating nasional yang otomatis berlaku untuk seluruh usaha kreatif.
Ada satu hal penting yang perlu dibedakan.
Nama QRIS STAR sudah muncul dalam program QRIS Jelajah Kuliner Indonesia milik Bank Indonesia.
Kementerian Ekraf kemudian melihat peluang memperluas konsep itu agar dapat digunakan untuk katalog dan klasifikasi ekonomi kreatif.
Konsepnya Menggunakan Tingkatan
Kementerian menggambarkan QRIS Star sebagai sistem yang memungkinkan usaha mempunyai tingkat tertentu.
Pelaku dapat memulai dari level dasar lalu naik ketika memenuhi indikator tambahan.
Analogi sistem bintang digunakan agar konsumen lebih mudah memahami kualitas atau kesiapan suatu usaha.
Namun, analogi tidak berarti QRIS Star nantinya akan meniru sistem Michelin secara penuh.
Pemerintah masih perlu menentukan kriteria final.
Tanpa aturan yang jelas, bintang hanya akan menjadi simbol tanpa arti konsisten.
Kuliner Menjadi Contoh Paling Mudah
Kuliner merupakan sektor yang paling gampang digunakan untuk menjelaskan konsep.
Wisatawan biasanya mencari restoran atau warung melalui ponsel.
Pilihan yang muncul bisa mencapai ratusan.
Klasifikasi membantu menyederhanakan proses.
Konsumen dapat melihat informasi tambahan selain lokasi dan nama usaha.
Jika sistem bekerja dengan baik, usaha kecil yang sebelumnya sulit ditemukan juga dapat muncul di depan pengguna.
Hal ini berpotensi menyebarkan belanja wisata ke luar kawasan yang sudah populer.
Bank Indonesia Sudah Menguji Model Kuliner
Bank Indonesia menggunakan QRIS STAR dalam program QRIS Jelajah Kuliner Indonesia.
Merchant mendapat penilaian berdasarkan beberapa indikator, termasuk transaksi dan ulasan konsumen.
Pendekatan tersebut memberi gambaran awal bagaimana data pembayaran dapat digabung dengan informasi lain.
Namun, cakupan ekonomi kreatif jauh lebih kompleks dibanding kuliner.
Musisi, animator, desainer, pengembang game, dan pengrajin mempunyai pola bisnis yang berbeda.
Karena itu, satu kriteria tidak mungkin cocok untuk seluruh subsektor.
Jumlah Transaksi Tidak Bisa Jadi Satu-satunya Ukuran
Volume pembayaran memberi gambaran aktivitas bisnis.
Tetapi angka tinggi belum tentu berarti kualitas lebih baik.
Warung di lokasi sangat ramai dapat mencatat ribuan transaksi karena harga produk murah.
Studio kerajinan premium mungkin hanya melayani sedikit pelanggan tetapi mempunyai kualitas tinggi.
Jika transaksi menjadi indikator utama, sistem dapat secara tidak sengaja menguntungkan usaha besar atau lokasi ramai.
Pemerintah perlu menggabungkan beberapa faktor agar penilaian tetap adil.
Kriteria Harus Mudah Dipahami
Sistem bintang hanya berguna jika konsumen tahu apa arti setiap tingkat.
Apakah bintang berkaitan dengan kualitas?
Apakah legalitas usaha berpengaruh?
Bagaimana ulasan pelanggan digunakan?
Apakah sertifikasi masuk penilaian?
Berapa lama suatu peringkat berlaku?
Pertanyaan tersebut perlu memiliki jawaban publik.
Transparansi membuat merchant memahami cara meningkatkan level.
Konsumen juga dapat menilai apakah peringkat memang relevan dengan kebutuhan mereka.
UMKM Bisa Mendapat Etalase Baru
Banyak pelaku ekonomi kreatif tidak mempunyai kemampuan pemasaran digital yang kuat.
Produk mereka mungkin menarik, tetapi website tidak tersedia.
Akun media sosial juga belum tentu aktif.
Katalog nasional dapat menjadi alternatif.
Jika sistem menggabungkan kategori, lokasi, dan metode pembayaran, pengguna dapat menemukan usaha yang sebelumnya tidak muncul dalam pencarian biasa.
Manfaatnya akan semakin besar bagi UMKM di destinasi wisata.
Wisatawan membutuhkan informasi cepat, sementara usaha kecil membutuhkan visibilitas.
Pariwisata Bisa Terhubung Lebih Erat
Dalam konsep QRIS Star, pemerintah melihat peluang menghubungkan sistem dengan pariwisata.
Wisatawan asing sering tidak memahami reputasi usaha lokal.
Mereka mengandalkan platform digital untuk mencari tempat makan, suvenir, pertunjukan, atau jasa kreatif.
Katalog yang mempunyai klasifikasi jelas dapat mempercepat keputusan.
Namun, informasi perlu hadir dalam beberapa bahasa.
Jika seluruh penjelasan hanya tersedia dalam bahasa Indonesia, manfaat untuk wisatawan asing menjadi terbatas.
Data Transaksi Harus Dilindungi
QRIS menghasilkan data yang bernilai tinggi.
Pengembangan katalog tidak berarti seluruh detail transaksi harus terbuka kepada publik.
Sistem perlu memisahkan informasi agregat dengan data sensitif.
Konsumen cukup melihat indikator yang relevan.
Merchant juga tidak perlu membuka omzet atau detail transaksi individual.
Keamanan perlu dirancang sejak awal.
Semakin banyak layanan terhubung, semakin besar dampak apabila terjadi kebocoran data.
Ekonomi Kreatif Sangat Beragam
Salah satu tantangan terbesar adalah luasnya sektor kreatif.
Kuliner menjual makanan.
Desainer menjual jasa.
Musisi memperoleh pendapatan dari streaming dan pertunjukan.
Pengembang game bisa menjual produk digital ke luar negeri.
Pengrajin mengirim barang fisik.
Semua pola tersebut membutuhkan ukuran berbeda.
Pemerintah mungkin perlu membuat kriteria khusus untuk setiap kelompok agar klasifikasi tidak membandingkan bisnis yang sebenarnya tidak sejenis.
Jangan Anggap Sistem Sudah Berlaku Penuh
Pelaku usaha perlu memahami bahwa gagasan perluasan QRIS Star belum menjadi rating nasional penuh untuk semua subsektor.
Karena itu, pemilik bisnis sebaiknya berhati-hati terhadap pihak yang menawarkan jasa mendapatkan “bintang resmi” tanpa kanal pemerintah yang jelas.
Tunggu mekanisme formal.
Jika nanti pemerintah mampu membuat kriteria yang transparan, mudah diaudit, dan adil bagi usaha kecil, QRIS Star dapat memberi nilai besar.
Manfaat terpentingnya bukan gambar bintang pada profil merchant.
Nilainya muncul ketika konsumen lebih mudah menemukan produk berkualitas, wisatawan menemukan usaha lokal, dan pelaku ekonomi kreatif mendapat insentif untuk terus meningkatkan standar.

















