Jejak Medan melaporkan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengusulkan pembukaan jalur laut berfrekuensi tinggi untuk membantu pelaku UMKM mengekspor produk ke Malaysia tanpa harus menunggu barang terkumpul dalam volume besar. Gubernur Sumut Bobby Nasution mengusulkan pola pengiriman skala kecil setiap lima hari atau satu minggu agar biaya logistik lebih mudah dijangkau dan perputaran modal pelaku usaha menjadi lebih cepat.
Usulan tersebut disampaikan ketika Bobby menerima Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato’ Muzafar Shah Mustafa di Medan. Melalui informasi Pemprov Sumut, pemerintah provinsi juga menyampaikan kesiapan membahas dukungan transportasi laut jika skema tersebut dapat diwujudkan.
Masalah UMKM Ada pada Volume Pengiriman
Banyak pelaku UMKM mampu menghasilkan produk yang layak dijual ke luar negeri.
Namun jumlah produksi mereka tidak sebesar perusahaan besar.
Kondisi tersebut menjadi masalah ketika layanan pengiriman ekspor mengharuskan volume tertentu.
Pelaku harus menunggu stok terkumpul.
Modal kemudian tertahan lebih lama.
Produk makanan juga memiliki batas masa simpan.
Semakin lama menunggu, semakin besar risiko kualitas menurun.
Karena itu, pengiriman dalam jumlah kecil tetapi lebih sering dapat menjadi alternatif.
Bobby Usulkan Pengiriman Lebih Rutin
Bobby mengusulkan jadwal kapal yang lebih rutin.
Contohnya setiap lima hari atau satu minggu.
Model ini memungkinkan pelaku UMKM tidak perlu menunggu satu kontainer penuh sendiri.
Barang dari banyak usaha dapat dikonsolidasikan.
Setelah jumlah cukup, muatan diberangkatkan bersama.
Konsep tersebut mirip dengan sistem pengiriman logistik konsolidasi yang telah digunakan di berbagai jalur perdagangan.
Keuntungan utamanya adalah pembagian biaya.
Satu pelaku usaha tidak menanggung seluruh ongkos kapal.
Sumut Memiliki Basis UMKM Besar
Sumatera Utara memiliki jumlah UMKM yang sangat besar.
Sebagian besar berada pada skala mikro dan kecil.
Kondisi tersebut menunjukkan potensi, tetapi sekaligus menjadi tantangan.
Tidak seluruh usaha memiliki kemampuan administratif untuk melakukan ekspor sendiri.
Produk harus memenuhi standar negara tujuan.
Kemasan, label, izin pangan, sertifikasi, dan konsistensi kualitas menjadi faktor penting.
Logistik hanya satu bagian dari rantai ekspor.
Pemerintah juga perlu membantu pelaku memenuhi persyaratan lainnya.
Malaysia Punya Keunggulan Jarak
Sumatera Utara memiliki posisi geografis dekat dengan Malaysia.
Penang berada di seberang Selat Malaka.
Kuala Lumpur juga relatif mudah dijangkau dibanding banyak pusat ekonomi Indonesia lainnya.
Bobby menilai kedekatan tersebut seharusnya menjadi keuntungan.
Beberapa wilayah di Sumut bahkan memiliki waktu tempuh ke Malaysia yang relatif singkat.
Keunggulan ini dapat digunakan untuk membangun hubungan dagang lebih intensif.
Hubungan Dagang Sudah Terbentuk
Malaysia bukan pasar yang benar-benar baru bagi Sumatera Utara.
Hubungan perdagangan telah berjalan cukup lama.
Menurut ANTARA Sumut, nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Malaysia berada pada skala puluhan miliar dolar AS per tahun, sementara kontribusi perdagangan Sumut juga sudah mencapai nilai signifikan.
Artinya, jalur perdagangan sebenarnya telah terbentuk.
Tantangannya adalah membuat UMKM lebih mudah masuk ke dalam rantai tersebut.
Subsidi Logistik Bisa Membantu Tahap Awal
Pemprov Sumut membuka kemungkinan memberikan dukungan transportasi laut.
Tujuannya menekan ongkos pengiriman pada tahap awal.
Subsidi dapat membantu menciptakan volume pasar.
Namun kebijakan ini perlu dirancang hati-hati.
Pemerintah harus menentukan siapa yang berhak memperoleh dukungan.
Besaran subsidi juga perlu transparan.
Program idealnya memiliki target.
Misalnya jumlah UMKM baru yang berhasil ekspor atau peningkatan nilai perdagangan.
Tanpa ukuran jelas, subsidi berisiko menjadi biaya rutin tanpa dampak besar.
Pelabuhan Jadi Faktor Penentu
Jalur laut membutuhkan pelabuhan yang efisien.
Belawan memiliki posisi penting sebagai gerbang logistik Sumatera Utara.
Waktu bongkar muat harus singkat.
Biaya administrasi juga perlu kompetitif.
Jika proses di pelabuhan terlalu lama, keuntungan jarak dapat hilang.
Digitalisasi dokumen ekspor dapat membantu.
Pelaku UMKM biasanya memiliki tenaga administrasi terbatas.
Semakin rumit proses, semakin sulit mereka ikut.
Produk Pangan Punya Peluang Besar
Sumut memiliki banyak produk makanan yang berpotensi masuk pasar Malaysia.
Kopi menjadi salah satunya.
Selain itu ada produk olahan hasil pertanian, makanan ringan, bumbu, dan berbagai produk lokal.
Kesamaan selera masyarakat Indonesia dan Malaysia memberikan keuntungan.
Namun produk makanan memiliki aturan ketat.
Label kandungan, tanggal kedaluwarsa, izin, dan standar keamanan harus diperhatikan.
Pelaku juga perlu menyesuaikan kemasan dengan pasar tujuan.
Ekspor Bisa Mempercepat Pertumbuhan UMKM
Pasar ekspor memberi peluang meningkatkan skala usaha.
Ketika permintaan bertambah, produsen membutuhkan lebih banyak bahan baku dan tenaga kerja.
Dampaknya dapat menyebar ke ekonomi lokal.
Namun pertumbuhan harus dijaga.
Pelaku yang mendapat pesanan besar perlu memastikan kapasitas produksi cukup.
Gagal memenuhi pesanan pertama dapat merusak kepercayaan pembeli.
Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya membuka jalur.
Pendampingan bisnis tetap diperlukan.
Konsolidasi Produk Bisa Jadi Solusi
Salah satu model yang dapat digunakan adalah pusat konsolidasi.
UMKM mengirim barang ke satu gudang.
Petugas kemudian menggabungkan barang berdasarkan jadwal keberangkatan.
Dokumen dapat diproses bersama.
Pendekatan ini mengurangi beban administrasi bagi pelaku kecil.
Pemerintah atau BUMD dapat menjadi fasilitator pada tahap awal.
Namun dalam jangka panjang, sektor swasta perlu dilibatkan agar model menjadi berkelanjutan.
Medan Bisa Menjadi Hub
Medan memiliki posisi strategis sebagai pusat ekonomi Sumatera Utara.
Banyak UMKM dari kabupaten sekitar dapat mengirim barang ke kota ini.
Dari Medan, produk dikonsolidasikan menuju pelabuhan.
Konsep tersebut dapat memperkuat fungsi kota sebagai hub perdagangan kawasan barat Indonesia.
Jalur ke Malaysia juga berpotensi digunakan untuk menarik barang masuk.
Namun keseimbangan perdagangan perlu dijaga agar manfaat tidak hanya dirasakan importir.
Tantangan Ada pada Pelaksanaan
Usulan jalur laut masih membutuhkan pembahasan teknis.
Jadwal kapal, operator, tarif, subsidi, kapasitas, dan pelabuhan tujuan belum ditetapkan secara final.
Karena itu, pelaku UMKM belum dapat langsung menggunakan layanan.
Tahap berikutnya adalah negosiasi.
Jika pemerintah kedua negara dan pelaku logistik menemukan model yang ekonomis, jalur tersebut dapat menjadi terobosan.
Keunggulan geografis Sumut sudah ada.
Tantangannya adalah mengubah jarak dekat menjadi sistem perdagangan yang benar-benar mudah digunakan oleh pelaku usaha kecil.















