JejakMedan mencatat Jelajah Wisata Budaya atau JWB ke-4 mulai digelar di Sumatera Utara dengan fokus memperkenalkan potensi budaya, kuliner, dan pariwisata Kota Medan serta Kabupaten Karo. Kegiatan yang digagas Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia DPD Sumatera Utara tersebut berlangsung pada awal Oktober 2026 dan melibatkan pelaku industri wisata dari berbagai daerah.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut karena dinilai dapat memperluas promosi destinasi di luar pola wisata konvensional.
Menurut laporan Waspada, penyelenggaraan JWB tahun ini berfokus menggali budaya Kota Medan dan kawasan Karo setelah tiga penyelenggaraan sebelumnya lebih banyak mengeksplorasi kawasan Danau Toba.
Peserta Diajak Mengenal Medan Lebih Dekat
Medan memiliki karakter wisata yang berbeda dibanding destinasi alam di Sumatera Utara.
Kota ini menawarkan kekuatan pada sejarah, arsitektur, keberagaman budaya, serta kuliner.
Rico Waas mendorong peserta untuk tidak hanya mengikuti agenda formal, tetapi juga masuk ke lingkungan kota dan menikmati pengalaman langsung.
Kuliner menjadi salah satu bagian yang paling ditekankan.
Medan dikenal memiliki kombinasi makanan Melayu, Batak, Tionghoa, India, Minang, dan berbagai pengaruh lain yang berkembang dari karakter masyarakatnya.
Keberagaman tersebut menjadi modal penting untuk wisata berbasis pengalaman.
Wisatawan dapat datang bukan hanya untuk melihat bangunan atau objek tertentu, tetapi juga mencoba makanan, mengenal pasar, dan berinteraksi dengan masyarakat.
Gallery Mustika Deli Ikut Dipromosikan
Pemkot Medan juga mendorong peserta JWB mengunjungi Gallery Mustika Deli.
Galeri tersebut digunakan sebagai ruang promosi produk unggulan usaha mikro, kecil, dan menengah lokal.
Berdasarkan informasi Pemko Medan, Rico Waas sejak September telah mengajak peserta memasukkan galeri tersebut sebagai salah satu bagian pengalaman selama berada di kota.
Strategi tersebut penting karena sektor pariwisata memiliki hubungan langsung dengan UMKM.
Pengunjung yang datang membutuhkan makanan, oleh-oleh, kerajinan, transportasi, hingga jasa pemandu.
Jika produk lokal masuk dalam rantai perjalanan wisata, manfaat ekonomi dapat menyebar lebih luas.
JWB Bukan Sekadar Perjalanan Wisata
Peserta Jelajah Wisata Budaya sebagian berasal dari kalangan pelaku pariwisata.
Karena itu, kegiatan ini berbeda dari perjalanan wisata biasa.
Peserta dapat melihat langsung potensi destinasi dan kemudian memasukkannya ke dalam paket perjalanan yang ditawarkan kepada wisatawan.
Model seperti ini memungkinkan promosi berjalan melalui jaringan agen perjalanan dan pelaku industri.
Destinasi yang sebelumnya kurang dikenal dapat memperoleh kesempatan baru apabila dianggap menarik dan layak dijual sebagai bagian dari paket.
Bagi Medan, pendekatan tersebut penting karena kota ini selama ini kerap diposisikan sebagai pintu masuk menuju destinasi lain di Sumatera Utara.
Wisatawan mendarat di Medan, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Danau Toba, Berastagi, Bukit Lawang, atau kawasan lain.
JWB mencoba memperkuat alasan agar wisatawan juga tinggal dan beraktivitas lebih lama di Medan.
Budaya dan Kuliner Jadi Modal Utama
Medan memiliki banyak bangunan dan kawasan dengan cerita sejarah panjang.
Istana Maimun, Masjid Raya Al Mashun, kawasan Kesawan, rumah ibadah tua, pasar tradisional, serta lingkungan multietnis menjadi bagian dari identitas kota.
Namun kekuatan terbesar Medan juga berada pada kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kuliner dapat menjadi pintu masuk yang mudah bagi wisatawan untuk memahami keberagaman tersebut.
Makanan bukan sekadar produk konsumsi. Setiap hidangan membawa pengaruh budaya, sejarah migrasi, bahan lokal, dan kebiasaan komunitas.
Inilah alasan wisata kuliner sering memiliki nilai ekonomi tinggi.
Wisatawan dapat mengeluarkan belanja langsung kepada usaha kecil tanpa membutuhkan pembangunan destinasi baru dalam skala besar.
Karo Menambah Variasi Perjalanan
Keterlibatan Kabupaten Karo membuat rangkaian JWB memiliki kombinasi wisata kota dan dataran tinggi.
Kawasan Karo memiliki karakter alam dan budaya yang berbeda dari Medan.
Wisatawan dapat menikmati udara sejuk, pertanian, budaya Karo, serta kawasan pegunungan setelah menikmati pengalaman urban di Medan.
Kombinasi tersebut memberi peluang membuat paket perjalanan yang lebih beragam.
Medan dapat menjadi titik awal dan akhir perjalanan, sedangkan destinasi di Karo menjadi bagian pengalaman alam dan budaya.
Konsep ini juga membantu mengurangi ketergantungan promosi Sumatera Utara pada satu destinasi saja.
Danau Toba tetap menjadi ikon utama, tetapi kawasan lain perlu mendapat ruang agar perjalanan wisata lebih merata.
Pelaku Wisata Berperan Penting
Keberhasilan promosi destinasi tidak hanya bergantung pada pemerintah.
Agen perjalanan, pemandu wisata, hotel, restoran, pengelola destinasi, komunitas, dan UMKM memiliki peran langsung dalam membentuk pengalaman wisatawan.
Jika satu bagian pelayanan buruk, kesan terhadap seluruh destinasi dapat ikut terdampak.
Karena itu, kegiatan yang mempertemukan pelaku industri dengan destinasi lokal dapat memberikan manfaat dua arah.
Pelaku wisata mendapat produk baru untuk dipasarkan, sementara daerah memperoleh masukan tentang kesiapan destinasi.
JWB juga dapat membantu pelaku lokal memahami kebutuhan wisatawan dari berbagai daerah.
Medan Ingin Wisatawan Tinggal Lebih Lama
Tantangan wisata kota adalah membuat pengunjung tidak hanya datang sebentar.
Semakin lama wisatawan tinggal, semakin besar potensi pengeluaran untuk penginapan, makanan, transportasi, belanja, dan hiburan.
Pemerintah dapat mendorong hal tersebut dengan menghubungkan beberapa jenis pengalaman dalam satu perjalanan.
Wisata sejarah dapat digabungkan dengan kuliner, belanja UMKM, pertunjukan budaya, dan kunjungan ke kawasan sekitar.
Jelajah Wisata Budaya menjadi salah satu cara memperkenalkan rangkaian tersebut kepada orang-orang yang nantinya dapat menjual paket perjalanan.
Perkembangan JWB ke-4 menunjukkan promosi pariwisata Sumatera Utara mulai diarahkan pada penyebaran destinasi yang lebih luas.
Medan tidak lagi hanya dipandang sebagai kota transit menuju Danau Toba.
Kekuatan kuliner, sejarah, masyarakat multikultural, serta produk UMKM menjadi aset yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata tersendiri.
Jika pelaku perjalanan mampu mengemasnya dengan baik, kegiatan seperti JWB dapat membantu meningkatkan lama tinggal wisatawan sekaligus memperluas manfaat ekonomi ke pelaku lokal.















